Home » Pencak Silat » Sejarah Silat Cimande, Aliran Silat Tertua di Indonesia

Sejarah Silat Cimande, Aliran Silat Tertua di Indonesia

Sejarah pencak silat Cimande tidak diketahui secara pasti. Namun, menurut sebagian besar komunitas silat Cimande, aliran ini diciptakan oleh seorang kyai bernama Mbah Kahir seperti yang sudah disebutkan diatas.

Sejarah Berdirinya Silat Cimande. Silat Cimande adalah salah satu aliran silat tertua di Indonesia. Aliran ini diperkirakan telah ada sejak abad ke-17 dan telah melahirkan berbagai perguruan silat di Indonesia bahkan di luar negeri.

Silat Cimande berasal dari Jawa Barat. Aliran ini memiliki sejarah yang panjang dan beragam versi.

Dari berbagai sumber, kami akan memberikan informasi mengenai sejarah asal-usul silat Cimande. Untuk lebih lengkapnya silahkan simak dibawah ini.

Sejarah Berdirinya Silat Cimande

Ada banyak versi mengenai asal muasal aliran pencak silat Cimande yang berkembang di tengah-tengah masyarakat.

Baca Juga Induk Organisasi Pencak Silat di Indonesia Adalah?

Tokoh Pendiri Silat Cimande

Tokoh pendiri silat Cimande yaitu Eyang Khair atau Abah Khaer (penulisan ada yang: Kaher, Kahir, Kair, Kaer). Asal tempat tinggal Abah Khair sering menjadi perdebatan sampai saat ini. Mengenai dari siapa Abah Khaer belajar Maenpo juga masih menjadi misteri sampai saat ini.

Menurut Ki Jatnika Nanggamiharja, Eyang Khair adalah sosok yang misterius. Hal ini terlihat dari banyaknya makam (petilasan) yang diyakini sebagai makamnya.

Ki Jatnika menyebutkan bahwa ada tujuh makam Eyang Khair yang ia ketahui, yaitu di Palabuhanratu, Banjar, Singkil Bekasi, dan lain-lain. Namun, menurut penelitian yang dilakukan oleh Tim Penelitian Sejarah Cimande, sebenarnya ada 41 makam yang diyakini sebagai makam Eyang Khair.

Ada dua versi yang berkembang tentang sosok Eyang Khair. Versi pertama menyebutkan bahwa Eyang Khair adalah Eyang Rangga itu sendiri. Versi kedua menyebutkan bahwa Eyang Khair menitipkan ilmunya kepada Eyang Rangga.

Ki Jatnika juga mengungkapkan bahwa pencak silat Cimande memiliki dua unsur, yaitu fisik dan spiritual. Unsur fisik berasal dari Kerajaan Pajajaran, sedangkan unsur spiritual berasal dari Cirebon. Hal ini menunjukkan bahwa Eyang Khair memiliki latar belakang yang kuat, baik dari segi fisik maupun spiritual.

Keberadaan Eyang Khair dan pencak silat Cimande memiliki peran penting dalam sejarah pencak silat Indonesia.

Asal-Usul Silat Cimande

Sejarah pencak silat Cimande tidak diketahui secara pasti. Namun, menurut sebagian besar komunitas silat Cimande, aliran ini diciptakan oleh seorang kyai bernama Mbah Kahir seperti yang sudah disebutkan diatas.

Mbah Kahir adalah seorang pendekar yang disegani pada masanya. Ia dikenal memiliki ilmu silat yang tinggi dan mampu mengalahkan banyak musuh.

Mbah Kahir mengajarkan ilmu silatnya kepada murid-muridnya. Murid-muridnya kemudian menyebarkan ilmu silat Cimande ke berbagai daerah di Indonesia.

Silat Cimande telah memberikan pengaruh yang besar terhadap perkembangan silat di Indonesia. Aliran ini telah melahirkan banyak pendekar silat yang tangguh dan disegani.

Salah satu tokoh Pahlawan Betawi yang juga belajar dari aliran silat Cimande yaitu Si Pitung menurut Bapak Rifai. Bapak Rifai adalah Guru Pencak Silat Cimande Panca Sakti di Jakarta pada tahun 1993.

Ada beberapa versi terkait dengan asal muasal atau sejarah aliran pencak silat Cimande. Dikutip dari Wikipedia berikut ini sejarah asal silat Cimande dari tiga versi yang banyak beredar.

Baca Juga Tingkatan Sabuk Silat Dari Beberapa Aliran Pencak Silat

Versi Pertama

Versi ini beredar di daerah Priangan Timur, terutama Garut, Tasikmalaya, dan Cianjur selatan. Kisah ini berawal dari seorang pedagang bernama Abah Khaer, yang hidup pada abad ke-17 hingga ke-18. Menariknya, Abah Khaer belajar seni bela diri ini dari sang istri.

Abah Khaer sering melakukan perjalanan antara Batavia, Bogor, Cianjur, Bandung, Sumedang, dan sekitarnya untuk berdagang. Dalam perjalanannya, dia sering menjadi korban perampokan hingga istri Abah Khaer menemukan sesuatu yang berharga.

Suatu hari, Abah Khaer pulang dari berdagang dan tidak menemukan istrinya di rumah. Kekhawatiran dan kejengkelannya memuncak, namun ketika sang istri akhirnya kembali, Abah Khaer tak bisa menahan amarahnya. Namun, sang istri dengan gesitnya menghindari pukulan Abah Khaer, membuatnya semakin marah.

Setelah kelelahan dan menyadari kekhilafannya, Abah Khaer bertanya pada istrinya dengan lembut.

Sang istri menjelaskan bahwa dia belajar Maenpo Cimande setelah menyaksikan pertarungan antara harimau dan monyet di pinggir sungai.

Ia mencatat gerakan-gerakan indah dari kedua makhluk itu dan kemudian berlatih sendirian hingga larut malam.

Abah Khaer meminta istrinya mengajarkan seni bela diri tersebut, dan dengan penuh semangat, dia berhenti berdagang dalam suatu waktu untuk fokus latihan. Setelah merasa mahir, Abah Khaer membangun reputasi sebagai ahli Maenpo Cimande yang dapat mengalahkan perampok yang mencoba menyerangnya.

Seni bela diri Maenpo Cimande mengajarkan beberapa jurus unik, seperti Jurus Harimau/Pamacan, Jurus Monyet/Pamonyet, dan Jurus Pepedangan yang diambil dari gerakan monyet memegang ranting.

Meskipun kisah Abah Khaer cenderung mitos dan sulit dibuktikan, jurus-jurus tersebut tetap ada dalam seni bela diri ini.

Versi Kedua

Pada versi kedua, Abah Khaer muncul sebagai tokoh ahli maenpo dari Kampung Badui. Sebagai keturunan Abah Bugis (Bugis di sini tidak merujuk kepada nama suku atau daerah di Indonesia Tengah), yang dulunya merupakan Guru ilmu perang dan kanuragaan di Kerajaan Padjadjaran.

Keberadaannya di Kampung Badui memunculkan kekhawatiran di kalangan sesepuh karena para pendekar dari berbagai daerah datang untuk menguji kemampuannya.

Sayangnya, pertarungan tersebut sering berujung pada kematian, yang dianggap sebagai “pengotoran” terhadap kesucian tanah Badui. Situasi ini memaksa pimpinan Badui, atau Pu’un, untuk meminta Abah Khaer meninggalkan kampung tersebut.

Dengan berat hati, Abah Khaer meninggalkan Kampung Badui dan menetap di desa Cimande-Bogor. Untuk menjaga rahasia tradisi Badui, terutama yang bersifat rahasia, Abah Khaer diminta untuk membantah asal-usulnya dari Badui.

Selain itu, orang Badui dalam diharamkan untuk melatih maenpo kepada orang luar, dan Abah Khaer berjanji untuk “menghaluskan” teknik maenpo agar tidak terjadi lagi kematian dalam pertarungan.

Versi kedua ini kemudian diadopsi oleh komunitas Maenpo di Jawa Barat bagian barat, termasuk Banten, Serang, Sukabumi, Tangerang, dan sekitarnya.

Mereka mempercayai bahwa beberapa aliran tua di wilayah tersebut berasal dari Abah Khaer, seperti aliran Sera yang diyakini berasal dari muridnya.

Meskipun Penca Sera sekarang diakui dan dipatenkan di Amerika oleh orang Indo-Belanda, warisan Abah Khaer tetap hidup sebagai bagian tak terpisahkan dari budaya dan seni beladiri di Indonesia.

Versi Ketiga

Pada versi ketiga, yang menyajikan bukti-bukti tertulis dan detail tempat yang lebih jelas. Inilah versi yang diwarisi oleh keturunan Abah Khaer di Kampung Tarik Kolot – Cimande, Bogor.

Namun, walaupun versi ini memberikan sejumlah jawaban, masih ada beberapa misteri yang belum terpecahkan, seperti siapa yang menciptakan aliran Maenpo ini.

Abah Khaer, dikisahkan sebagai murid dari Abah Buyut, yang dalam konteks budaya Sunda, istilah Buyut digunakan untuk menyebut “leluhur.”

Abah Buyut sendiri menjadi misteri terpisah, menyisakan pertanyaan darimana dia mempelajari Maenpo ini dan apakah hasil perenungan pribadi atau dia diajari oleh seseorang.

Di desa Tanah Sareal, terdapat makam leluhur Maenpo Cimande, termasuk Abah Buyut, Abah Rangga, Abah Khaer, dan lainnya.

Awalnya, Abah Khaer bekerja sebagai pedagang, sering bepergian ke berbagai daerah, terutama Batavia.

Perjalanan yang sulit dengan tantangan alam seperti perampok, harimau, macan tutul, dan macan kumbang menjadi bagian pembentuk beladiri Abah Khaer.

Di Batavia, ia bertukar jurus dengan pendekar dari Tiongkok dan Sumatra, memperkaya pengetahuan beladirinya.

Pada masa pemerintahan Bupati Rd. Aria Wiratanudatar VI di Cianjur, Abah Khaer diundang dan dipekerjakan sebagai “pamuk” atau guru beladiri di lingkungan Kabupaten.

Di sana, ia berkenalan dengan Rd. Aria Wiranagara (Aria Cikalong), salah satu murid terbaiknya. Setelah Bupati Aria Wiratanudatar VI meninggal, Abah Khaer pindah mengikuti Rd. Aria Natanagara yang menjadi Bupati di Bogor.

Abah Khaer menetap di Kampung Tarik Kolot – Cimande hingga wafat pada tahun 1825. Dikenal dengan gaya berpakaian kampret dan celana pangsi warna hitam, serta selalu memakai ikat kepala merah, Abah Khaer diceritakan sebagai pribadi yang ekspresif dalam tarian Maenpo Cimande.

Walau tidak ada gambaran visual, cerita-cerita tentang penampilannya yang memukau terus dikenang dan menjadi perbincangan.

Sejarah Abah Khaer menciptakan aliran Maenpo Cimande yang dahsyat dan warisan tersebut terus tersebar di seluruh Jawa Barat melalui murid-muridnya.

Baca Juga Aliran dan Tempat Belajar Latihan Pencak Silat Terdekat

Akhir Kata

Demikianlah informasi mengenai Sejarah Berdirinya Silat Cimande yang kami tulis ulang dari berbagai sumber. Semoga informasi tersebut dapat bermanfaat.


Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *